Categories
halal tour siroh

Thaif & Kesabaran Rasulullah

“Ya Rasulallah”, begitu kelak ‘Aisyah bertanya sembari bersandar mesra di bahu beliau dan menatap matanya penuh cinta, “Pernahkah kau alami hari yang lebih berat daripada ketika di Uhud?” Maka, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita, seperti diriwayatkan Imam Al Bukhari berikut ini.

“Aku mendatangi para pemimpin Thaif; ‘Abdu Yalail ibn ‘Amr, Mas’ud ibn ‘Amr, dan Hubaib ibn ‘Amr Ats Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Tirai Ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul’, yang berikutnya berucap, ‘Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus?’, dan yang terakhir berujar, ‘Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar Rasul, aku khawatir mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta!’

Semua itu bermula setelah meninggalnya khadijah dan abu thalib. sehingga tidak ada lagi yang melindungi dan menemani beliau berdakwah di madinah. hingga suatu ketika nabi mendapatkan mimpi, beliau melihat cahaya islam itu terbit terang benderang dari sebuah tempat penuh pepohonan dan pohon kurma, beliau mengira tempat itu adalah yamamah dan beliau mengira tempat itu adalah thaif, maka yang paling dekat itu adalah thaif.

Sehingga tahun ke-11 setelah kenabian, ( ada juga yang menyebutkan tahun ke-10 setelah kenabian ) beliau berangkat menuju thaif berjalan kaki, berhijrah menuju Thaif bersama Zaid bin Harisah. Sesampainya di Thaif para pemimpin Thaif; ‘Abdu Yalail ibn ‘Amr, Mas’ud ibn ‘Amr, dan Hubaib ibn ‘Amr Ats Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Tirai Ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul’, yang berikutnya berucap, ‘Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus?’, dan yang terakhir berujar, ‘Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar Rasul, aku khawatir mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta!’

Lalu setelah tiga hari Rasulullah menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapapun yang kutemui, merekapun beramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakiti Rasulullah. Mereka berkumpul dan membawa kotoran-kotaran, batu-batu kemudian melemparkannya kepada rasulullah. salah satu batu mengenai kaki rasul, dan mengeluarkan darah, nyaris mengenai tanah kemudian darah itu di tahan oleh beliau supaya tidak mengenai tanah. Syeikh Munir Muhammad Al-Ghadban menjelaskan dalam karyanya bahwa rasulullah tahu jika darahnya jatuh mengenai tanah maka akan mengundang murka allah swt. sehingga rasul memutuskan untuk berlari-lari di kejar oleh masyarakat thaif hingga ke perbatasan kota thaif.

Hingga sampai di perkebunan anggur Utbah dan saibah bin Rabi’ah. Di sana mereka beristirahat dan mengobati luka. Ketika itu Rasulullah bermunajat kepada Allah SWT agar dirinya dikuatkan menghadapi cobaan yang begitu berat. Disana mereka bertemu dengan budak yang mengurus kebun itu yang bernama addas Ninawa. Ninawa merupakan daerah berada di tepian Sungai Tigris, dekat dengan Mosul, Irak. Rasul juga menanyakan agama yang dianut pria tadi. Addas menjawab, dia mengikuti ajaran Nabi Yunus. Lalu, Rasul menjelaskan Yunus adalah anak Matta, yang juga saudara Rasulullah. Ketika mendengar itu, Addas mengetahui Muhammad adalah utusan Allah. Dia langsung memeluk dan mencium rasulullah.

setelah beristirahat di kebun anggur tersebut, kemudian rasul dan zaid bin harisah melajutkan perjalanan kembali ke kota mekkah sampailah di daerah Qarnul Tsaalib. saat ini bernama Qarnul Manazil. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk. ‘Sesungguhnya’, kata Jibril, ‘Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu.
Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini untuk kauperintahkan sesukamu.”

Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, ‘Ya Rasulallah, ya Nabiyyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu.’

“Tidak”, jawabku, “Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Bahkan aku ingin agar dari sulbi-sulbi mereka, dari rahim-rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan anak-keturunan yang mengesakanNya dan tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”

Begitulah Kisah yang mahsyur mengenai kesabaran rasulullah terhadap masyarakat thaif. dan saat ini kota thaif merupakan destinasi baru ziarah bagi jamaah umroh maupun haji yang berada di kota mekkah. disana juga terdapat masjid dan makam abdullah ibnu abbas. setelah puas mengunjungi thaif, jamaah bisa makan nasi mandhi bersama.

diambil dari berbagai sumber : majelis jejak para nabi, ihram.co.id, dll dengan beberapa perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *